TANJUNG SELOR,(Bacabah.com)-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) menggelar Workshop Pengembangan Literasi Data sebagai langkah awal memperkuat implementasi Satu Data Daerah, di Ballroom Hotel Luminor, Jum’at (17/4/26).
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut kebijakan nasional berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 2024.
Selain itu, komitmen daerah juga diperkuat melalui Peraturan Gubernur Kaltara Nomor 30 Tahun 2022.
Workshop tersebut didukung Program SKALA (Sinergi dan Kolaborasi untuk Akselerasi Layanan Dasar) dan menjadi langkah strategis dalam merumuskan kerangka, mekanisme, serta kurikulum sekolah data yang komprehensif dan berkelanjutan.
Kepala Bapperida Kaltara Bertius, S.Hut., yang diwakili Kepala Bidang Pengkajian Perencanaan Daerah dan Pengendalian Pembangunan Dedy Irawan, S.E., menyampaikan bahwa implementasi satu data tidak hanya berfokus pada tata kelola dan infrastruktur, tetapi juga pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
“Tanpa pemahaman yang memadai, data yang tersedia berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal dalam mendukung perencanaan dan pengambilan kebijakan,” kata Dedy.
Ia menjelaskan, sekolah data menjadi salah satu strategi untuk memperkuat pemahaman, pengolahan, dan pemanfaatan data lintas sektor.
Menurutnya, program ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara ketersediaan data dan kemampuan pengguna dalam mengolahnya secara tepat.
“Sekolah data diharapkan membangun budaya pemanfaatan data di daerah, sehingga data tidak hanya tersimpan, tapi benar- benar menjadi dasar dalam pengambilan keputusan dan kebijakan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan mampu meningkatkan kualitas perencanaan, penganggaran serta evaluasi pembangunan di lingkungan Pemprov Kaltara.
Selain itu, kolaborasi dengan perguruan tinggi juga diharapkan semakin terbuka, khususnya dalam pengembangan riset dan inovasi berbasis data daerah.
Sinergi ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem data daerah secara menyeluruh.
Dedy menegaskan, pengembangan sekolah data ke depan memerlukan kurikulum yang terstruktur, adaptif dan sesuai kebutuhan pengguna.
“Materi dan metode pembelajaran harus selaras dengan tujuan satu data daerah dan kebutuhan pengguna,” tutupnya. (**/dkisp).













